Aku pernah membuat sebuah video pada tanggal 9 Juni 2022. Waktu itu aku bahkan sudah lupa apa yang ada di kepalaku. Nggak ada rencana besar, nggak ada konsep matang, cuma perasaan yang lewat dan akhirnya aku tuangkan begitu saja. Aku bikin, aku simpan, lalu hidup berjalan seperti biasa. Hari demi hari berlalu, dan video itu pelan-pelan terkubur oleh waktu.
Sampai akhirnya hari ini, aku melihatnya lagi.
Dan anehnya, saat aku menonton ulang, aku merasa seperti sedang menatap versi diriku yang jauh lebih muda—yang mungkin bingung, capek, penuh tanda tanya, tapi tetap nekat melangkah. Video itu ternyata bukan sekadar arsip. Ia berubah jadi refleksi. Pengingat bahwa aku pernah berada di titik yang jauh lebih gelap, lebih sepi, dan lebih penuh ketidakpastian dibanding sekarang.
Masih di tanggal yang sama, aku ternyata membuat video lain yang hampir persis. Visualnya sama, suasananya sama. Bedanya cuma satu kata yang aku tulis: Bismillah. Setelah itu, aku menambahkan beberapa kalimat. Sampai sekarang aku pun nggak benar-benar ingat apa yang ada di pikiranku saat itu. Apakah aku benar-benar sedang berdoa, atau hanya menulis karena terbiasa menyebut nama-Nya. Tapi satu hal yang aku tahu, setiap kali aku berdoa, aku selalu melakukannya dengan sungguh-sungguh. Diam-diam, tanpa banyak saksi.
Hampir empat tahun berlalu sejak hari itu. Dan saat aku melihat video itu lagi, ada satu kata yang akhirnya ingin aku ucapkan dengan penuh kesadaran: Alhamdulillah. Karena Bismillah yang dulu aku ucapkan tanpa tahu akhirnya ke mana, ternyata menciptakan banyak cerita. Banyak kesempatan. Banyak perubahan. Bahkan perlahan mengarahkan hidupku ke versi yang lebih berkembang dan lebih positif.
Aku tahu perjalananku belum selesai. Masih panjang. Masih banyak tantangan yang belum aku taklukkan, banyak hal yang belum aku pahami, dan banyak bagian dari diriku yang masih perlu aku bereskan. Aku juga tahu, sampai hari ini pun, aku mungkin belum menjadi siapa-siapa. Kadang aku masih merasa kosong. Kadang aku merasa tertinggal. Kadang aku ragu pada diriku sendiri.
Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang nggak bisa aku sangkal: aku bersyukur bisa sampai di titik ini. Karena ternyata, versi diriku yang sekarang—dengan segala kekurangannya—dulunya hanyalah doa. Doa yang aku panjatkan pelan-pelan. Doa yang aku simpan sendiri. Doa yang dulu bahkan terasa terlalu besar untuk aku capai.
Dan malam ini, aku tidak sedang merayakan pencapaian besar. Aku hanya sedang mengakui satu hal kecil tapi penting: aku masih bertahan. Aku masih berjalan. Dan aku masih belajar percaya bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, tetap punya arti.
Curhatan Tengah Malem Pt. 1
Kadang hidup tidak menjawab doa kita dengan cepat, tapi ia selalu menjawabnya dengan cara yang membentuk kita pelan-pelan.